HAL YANG MENYEBABKAN KEHILANGAN KEWARGANEGARAAN

on Rabu, 26 Februari 2014
Pasal 23 UU RI No. 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan mengatur sebab-sebab kehilangan kewarganegaraan Indonesia, yaitu sbb;


  1. 1.       Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri
  2. 2.       Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu.
  3. 3.       Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya sendiri, apabila yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin., bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan RI tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.
  4. 4.       Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu oleh presiden
  5. 5.       Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan hanya dapat dijabat oleh WNI
  6. 6.       Secara suka rela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut
  7. 7.       Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing
  8. 8.       Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya
  9. 9.       Bertempat tinggal diluar NKRI selama 5 tahun terus menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi WNI kepada perwakilan RI yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan.
Sedangkan pasal 26 UU RI No.12 tahun 2006, juga menyebutkan kehilangan kewarganegaraan bagi suami atau istri WNI dengan ketentuan sebagai berikut;


  1. 1.       Perempuan WNI yang kawin dengan laki-laki WNA kehilangan kewarganegaraannya, jika menurut hukum negara asal suaminya kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut
  2. 2.       Laki-laki WNI yang kawin dengan perempuan WNA kehilangan kewarganegaran RI, jika menurut hukum asal istrinya kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan istri sebagai akibat dari perkawinan tsb.


Fungi (jamur)

on Senin, 24 Februari 2014
Fungi
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Kalangan ilmuwan kerap menggunakan istilah cendawan sebagaisinonim bagi Fungi.
Awam menyebut sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga ataukatak). Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh buah.
Ilmu yang mempelajari fungi disebut mikologi (dari akar kata Yunani μυκες, "lendir", dan λογοσ, "pengetahuan", "lambang").
Posisi dan taksonomi
Sebelum dikenalkannya metode molekuler untuk analisis filogenetik, dulu fungi dimasukkan ke dalam kerajaantumbuhan/plantae karena fungi memiliki beberapa kemiripan dengan tumbuhan yaitu tidak dapat berpindah tempat, juga struktur morfologi dan tempat hidupnya juga mirip. Seperti tanaman, kebanyakan fungi juga tumbuh di tanah. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari kerajaan tumbuhan dan mempunyai kerajaan sendiri karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
Ciri fungi
·         Dengan jenis eukariota lainnya: Sama seperti eukariota, sel fungi memiliki membran inti dengan kromosom yang mengandung DNA. Selain itu, sel fungi juga memiliki beberapa organel sitoplasmik seperti mitokondria, sterol, dan ribosom.).
·         Dengan hewan: Fungi tidak mempunyai kloroplas untuk fotosintesis dan merupakan organisme heterotrof, memerlukansenyawa organik sebagai sumber energinya.
·         Dengan tumbuhan: Fungi mempunyai dinding sel dan vakuola. Fungi bisa bereproduksi secara seksual maupun aseksual, dan seperti grup tanaman basal lainnya (seperti tumbuhan paku dan lumut daun), fungi akan menghasilkan spora. Mirip juga dengan lumut daun dan algae, fungi memiliki nukleus yang haploid.
·         Dinding sel terbuat dari zat kitin


Cara hidup
Fungi hidup menyerap zat organik dari lingkunganya. Berdasarkan cara memperoleh makannya, fungi mempunyai sifat sebagai berikut:
·         Saprofit
·         Parasit
·         Mutual
·         dan lain - lain
Habitat
Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembap. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembap. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar. Jamur juga dapat hidup di lingkungan yang asam.

Reproduksi
Fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniseluler serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami.
Klasifikasi
Fungi diklasifikasikan menjadi 6 klasifilasi:
·         Zygomycota
·         Ascomycota
·         Basidiomycota
·         Deuteromycota
·         Mikoriza
·         Lumut Kerak



Tahap Reproduksi Ascomycotina

on Senin, 17 Februari 2014

  • 1.       Mula-mula Hifa berbeda jenis saling berdekatan.
  • 2.       Hifa betina akan membentuk Askogonium dan hifa jantan akan membentuk Anteridium, masing-masing berinti haploid.
  • 3.       Dari askogonium akan tumbuh Trikogin yaitu saluran yang menghubungkan askogonium dan anteridium.
  • 4.       Melalui trikogin anteridium pindah dan masuk ke askogonium sehingga terjadi plasmogami.
  • 5.       Askogonium tumbuh membentuk sejumlah hifa askogonium yang dikarion. Pertumbuhan terjadi karena pembelahan mitosis antara inti-inti tetapi tetap berpasangan.
  • 6.       Pada ascomycota yang memiliki badan buah, kumpulan hifa askogonium yang dikariotik ini membentuk jalinan kompak yang disebut Askokarp. Ujung-ujung hifa pada askokarp membentuk askus dengan inti haploid dikariotik.
  • 7.       Di dalam askus terjadi kariogami menghasilkan inti diploid.

  • 8.       Di dalam askus terdapat 8 buah spora. Spora terbentuk di dalam askus sehingga disebut sporaaskus. Spora askus dapat tersebar oleh angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai, spora askus akan tumbuh menjadi benang hifa yang baru.

Pengklasifikasian Protista

on Senin, 10 Februari 2014
Protista Mirip Hewan
Protista mirip hewan atau yang biasa disebut protozoa organisme bersel satu yang berukuran mikroskopis. Cara perkembangbiakan protista mirip hewan( protozoa) dapat terjadi secara seksual maupun aseksual. Secara aseksual yanitu dengan membelah diri atau membentuk spora, sedangkan secara seksual yaitu dengan melakukan konjugasi. Konjugasi ini merupakan proses menempelnya dua sel untuk mengadakan pertukaran inti sel. Protista mirip hewan (protozoa) dapat dijumpai di berbagai tempat, yaitu di parit, sawah, sungai, bendungan, atau air laut, bahkan ada yang hidup dalam tubuh makhluk hidup lainnya sebagai parasit. Dalam Klasifikasimakhluk Hidup, protozoa di kelompokkan berdasarkan alat geraknya, yaitu Rhizopoda(kaki semu), Ciliata(bulu getar), Flagellata(bulu cambuk),sporozoa(tidak mempunyai alat gerak khusus).
A.      Rhizopoda 
Organisme yang paling terkenal dalam filum ini adalah Amoeba. Maka akan lebih mudah jika kita menguraikan ciri filum ini dari ciri amoeba itu sendiri. Amoeba merupakan rhizopoda yang bergerak dengan kaki semu (pseudopodium), organisme ini tidak memiliki bentuk tetap karena selalu berubah-ubah. Amoeba ada yang hidup di alam, namun ada juga yang hidup sebagai parasit.
          Amoeba bergerak dan menangkap makananya dengan kaki semu. Kaki semu itu dijulurkan menuju makanan, diikuti oleh oleh isi sel sehingga tubuhnya bergerak ke makanan itu. Makanannya berupa bakteri atau bahan Organik lainnya. Makanan yang diperoleh akan masuk ke vakuola makanan untuk dicerna. Lalu Vakuola ini beredar ke seluruh sel sambil membawa makanan yang diolahnya. Sesudah diolah, sari-sari makanan masuk ke dalam sitoplasma dan sisa-sisa makanan berbentuk padat kemudian menepi dan kemudian keluar dari sel melalui membran plasma.Organisme ini berkembangbiak secara aseksual , yaitu dengan membelah diri.
B.      Ciliata
Contoh dari filum ini adalah paramecium yang disebut sebagai hewan sandal, karena bentuknya yang menyerupai tapak sandal.organisme ini bergerak di air dengan menggunakan silia (bulu getar). Di permukaan membran sel yang melekuk terdapt mulut sel. Air masuk ke mulut selnya karena getaran silia. Biasanya organisme ini memakan bakteri atau mikroorganisme lainnya yang hidup di dalam air. Setelah makanan masuk melalui mulut dan melewati kerongkongan sel, makan itu kemudian menuju vakuola makanan. Sama seperti Rhizopoda, vakuola makanan beredar sambil mencerna makanan. Sari-sari makanan masuk ke dalam sitoplasma. Sisa makanan yang berwujud cairan dikeluarkan melalu vakuola berdenyut yang berjumlah dua buah, masing-masing terletak di ujung sel, sedangkan sisa makanan yang berwujud padat dikeluarkan oleh vakuola makanan yang menepi menuju ke permukaan membran sel. Selanjutnya vakuola makanan pecah, dan sisa-sisa makanan tadi ikut keluar.
          Paramecium berkembangbiak baik secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatif adalah dengan jalan membelah diri, sedangkan secara seksual dilakukan dengan konjugasi.




C.      Flagellata.
 Flagellata adalah organisme protista yang bergerak dengan menggunakan flagela( bulu cambuk). Contoh organisme dari filum ini adalah trypanosoma. Makhluk ini hidup secara parasit di dalam darah manusia dan vertebrata lainnya. Trypanosoma berkembangbiak dengan membelah diri.
D.      Sporozoa
Organisme yang paling terkenal dalam filum ini adalah Plasmodium yang hidup parasit pada tubuh manusia dan menyebabkan penyakit malaria. Makanannya adalah sel darah merah (eritrosit). Inang perantaranya adalah nyamuk anopheles. Plasmodium berkembang secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatif terjadi dengan membentuk spora. Sedangkan perkembangbiakkan nya secara seksual/generatif adalah dengan membentuk gameet. Sel gamet jantan disebut mikrogametosis, sel betina disebut makrogametosis. Peleburan dilakukan dalam tubuh nyamuk anopheles. Jika nyamuk ini menggigit manusia, maka plasmodium yang terdapat dalam air liur dapat menginfeksi tubuh manusia.
Protista Mirip Jamur
1. Filum Jamur Air (Oomycota)
Oomycota dapat hidup di air atau tempat-tempat lembap dan mempunyai oospora sebagai penghasil spora. Spora yang dihasilkan oleh zigot berdinding tebal yang berfungsi sebagai pelindung. Pada kondisi tertentu, spora akan tumbuh menjadi hifa baru.
Jamur ini memiliki ciriciri sebagai berikut: a. dinding sel berupa selulosa, b. mempunyai banyak inti yang terdapat dalam benang-benang hifa yang tidak bersekat, dan c. berkembang biak secara aseksual dengan pembentukan zoospora. Zoospora ini dilengkapi dengan alat berenang berupa dua buah flagel.
Contoh Oomycota adalah Phytophthora, Saphrolegnia, dan Pythium. Phytophthora adalah jamur karat putih yang dapat hidup secara saprofit atau parasit. Jamur yang hidup secara parasit, misalnya, P. nicotin (tembakau), P. palmifera (kelapa), dan P. infestans (kentang).
Saprholegnia mempunyai miselium dan hifa sebagai alat reproduksi. Jamur ini merupakan saprofit pada hewan air yang telah mati. Jamur ini dikatakan mempunyai spora kembara dimorf.
2. Filum Jamur Lendir (Mycomycota)
Ciri-ciri jamur lendir adalah sebagai berikut: a. bentuk tubuh seperti lendir (plasmodium) yang merupakan massa protoplasma tidak berdinding;
berinti banyak, bersel satu atau bersel banyak;
struktur tubuh vegetatif menyerupai Amoeba, berbentuk seperti lendir (plasmodium), tetapi cara berkembang biaknya menyerupai Fungi;
berkembang biak secara aseksual dan seksual. Pencernaan makanan yang dilakukan pada fase vegetatif (aseksual) dilakukan menyerupai Amoeba. Pada tingkat dewasa, Plasmodium akan membentuk kotak spora seperti pada Fungi. Setelah matang, kotak spora ini akan pecah dan mengeluarkan spora. Spora yang berkecambah akan membentuk sel gamet yang menyerupai Amoeba. Sel-sel gamet ini bersifat haploid dan akan melakukan singami atau peleburan dua gamet dengan ukuran yang sama dan tidak dapat dibedakan antara sel jantan dan betina yang akan menghasilkan zigot;
biasa hidup di hutan-hutan basah, tanah lembap, batang kayu yang membusuk, kayu lapuk, atau sampah basah. Jamur lendir (Mycomycota) dibedakan menjadi dua tipe, yaitu Acrasiomycota dan Myxomycota.
a. Acrasiomycota (Jamur Lendir Bersekat)
Acrasiomycota dinamakan juga jamur lendir bersekat. Pada saat Plasmodium membesar dan inti sel membelah sel individu tetap terpisah saat bergabung membentuk pseudoplasmodium. Saat makanan berkurang zat kimia yang dikeluarkan oleh Amoeba akan bergabung membentuk Plasmodium.
Plasmodium akan bergerak ke arah cahaya. Pada saat ada makanan, Plasmodium akan berhenti bergerak dan membentuk tubuhnya yang mengandung spora reproduksi. Pada saat kondisi menguntungkan, spora yang tertinggal akan membentuk Amoeba baru dan siklus akan berulang.
b. Myxomycota (Jamur Lendir Tidak Bersekat)
Myxomycota merupakan jamur lendir yang tidak bersekat. Jamur ini berinti banyak, setiap intinya tidak dipisahkan oleh adanya sekat, bersifat uniseluler ataupun multiseluler, dan dapat bergerak bebas. Jamur lendir hidup di batang kayu yang membusuk, tanah lembap, sampah basah, kayu lapuk, dan di hutan basah.
Jamur lendir dapat berkembang biak dengan cara vegetatif dan generatif. Fase vegetatif Plasmodium bergerak amoeboid mengelilingi dan menelan makanan berupa bahan organik.
Makanan dicerna dalam vakuola makanan. Sisa yang tidak dicerna ditinggal sewaktu plasmodium bergerak. Jika telah dewasa, Plasmodium membentuk sporangium (kotak spora). Sporangium yang masak akan pecah dan spora tersebar dengan bantuan angin. Spora yang berkecambah akan membentuk sel gamet yang bersifat haploid, kemudian sel gamet ini melakukan singami.
Singami adalah peleburan dua gamet yang bentuk dan ukurannya sama (yang tidak dapat dibedakan jantan dan betinanya). Hasil peleburan berupa zigot dan zigot tumbuh dewasa. Pada Myxomycota, massa berinti banyak yang disebut Plasmodium (jangan dikacaukan dengan plasmodium penyebab malaria), bergerak berpindah tempat di tanah atau sepanjang dasar hutan, di daun, kayu busuk untuk memakan bakteri.
Plasmodium mempunyai banyak inti, tetapi tidak dapat dibagi menjadi beberapa sel-sel terpisah. Myxomycota yang sedang bergerak dapat seukuran buah anggur. Saat Plasmodium membesar, intinya membelah. Sebaliknya, pada Acrasiomycota, sel-sel individu tetap terpisah saat mereka bergabung membentuk pseudoplasmodium atau massa multiseluler.
Protista Mirip Tumbuhan
1.Filum Alga Keemasan (Chrysophyta)
Filum alga yang biasanya tinggal di atas permukaan tanah yang lembap dan menyebabkan permukaan tanah berwarna kuning keemasan. Tubuh alga keemasan terdiri dari satu sel dan bentuknya menyerupai  perahu.


2.Filum Euglenophyta
Filum alga yang ini banyak dijumpai di air tawar dengan bentuk yang lonjong, memiliki flagela(cambuk), bintik mata, dan berwarna hijau karena memiliki klorofil. Euglenophyta bergerak aktif seperti hewan namun dapat berfotosintesis layaknya tumbuhan. Filum yang biasa disebut euglena ini biasa berkembangbiak dengan cara membelah diri. Beberapa ahli memasukkannya kedalam kelompoknya sendiri karena memiliki ciri mirip hewan sekaligus mirip tumbuhan.
3.Filum Alga Cokelat (Phaeophyta)
Alga cokelat umumnya hidup di perairan pantai ber-iklim dingin. Ada juga yang hidup di air tawar. Semua Alga cokelat merupakan makhluk hidup bersel banyak.
4.Filum Alga Merah (Rhodophyta)
Alga merah merupakan makhluk hidup bersel banyak yang mengandung pigmen fikobilin. Pigmen ini terdiri dari fikoritrin (merah) dan fikosianin (biru). Alga merah banyak dimanfaatkan untuk industri kosmetik, cat, eskrim,dll.
5.Filum Alga Hijau (chlorophyta)

Filum alga yang ini tergolong makhluk hidup eukariot. Alga hijau dapat hidup di air tawar, air laut, di tanah becek, di atas batu, bahkan di kolam. Kolam yang banyak ditumbuhi alga ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu berwarna kehijauan. Alga ini memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam. Ada yang bersel tunggal, bentuk benang, dan ada yang bersel banyak mirip tumbuhan tingkat tinggi.

Contoh Text Narrative: A Cap Seller And The Monkeys

on Selasa, 28 Januari 2014
Once, a cap seller was passing through a jungle. He was very tired and needed to rest. Then, he stopped and spread a cloth under a tree. He placed his bag full of caps near him and lay down with his cap on his head.
The cap seller had a sound sleep for one hour. When he got up, the first thing he did was to look into his bag. He was startled when he found all his caps were not there.
When he looked up the sky, he was very surprised to see monkeys sitting on the branches of a tree, each of the monkeys is wearing a cap of on its head. They had evidently done it to imitate him
He decided to get his caps back by making a humble request to the monkeys. In return, the monkeys only made faces of him. When he begun to make gesture, the monkeys also imitated him.

At last he found a clever idea. " Monkeys are a great imitator," he thought. So he took off his own cap and threw it down on the ground. And as he had expected, all the monkeys took off the caps and threw the caps down on the ground. Quickly, he stood up and collected the caps, put them back into his bag and went away.

Korps Marinir RI

on Jumat, 24 Januari 2014
Korps Marinir adalah salah satu Kotama (Komando Utama TNI Angkatan Laut). Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir adalah sebuah Kotama sejajar dengan Kotama lain seperti Koarmatim, Koarmabar, Kolinlamil, Kobangdikal, Seskoal dan AAL. Cikal bakal Korps Marinir bermula dari tanggal 15 November 1945, di mana nama Corps Mariniers tercantum dalam Pangkalan IV ALRI Tegal sehingga tanggal ini dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir. Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/1948 pada tanggal 9 Oktober 1948 ditetapkan adanya Korps Komando di dalam jajaran Angkatan Laut. Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 15 November 1975.
KORMAR memiliki slogan Jalesu Bhumyamca Jayamahe,bermaksud Di Laut dan Darat Kita Jaya.
Markas Korps Marinir terletak di Jalan Kwitang, Jakarta Pusat. Korps Marinir terdiri dari tiga brigade infrantri marinir. Satuan elit marinir TNI-AL dinamakan Batalyon Intai Amfibi (Taifib) dan satuan anti-teror marinir TNI-AL dinamakan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka).
Saat ini kekuatan Korps Marinir TNI AL terbagi menjadi 2 Pasukan Marinir (Pasmar I dan Pasmar II) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Komandan Pati Marinir Bintang Satu (Brigjen TNI Marinir). Setiap Pasmar membawahi Brigade Infanteri Marinir, Resimen Bantuan Tempur Marinir (Menbanpurmar), Resimen Artileri Marinir (Menartmar) dan Resimen Kavaleri Marinir (Menkavmar). Brigade Infanteri Marinir yang ada sekarang 3 Brigade melingkupi 9 Batalyon Infanteri Marinir.
·         Pasukan Marinir 1, berkedudukan di Gedangan, Sidoarjo
·         Brigade Infanteri 1/Marinir, berkedudukan di Sidoarjo
·         Resimen Artileri 1/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Artileri 3/Marinir
2.     Batalyon Arhanud 1/Marinir
3.     Batalyon Howitzer 1/Marinir
4.     Batalyon Roket 1/Marinir
·         Resimen Kavaleri 1/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Ranratfib 1/Marinir
2.     Batalyon Tankfib 1/Marinir
3.     Batalyon Kapa 1/Marinir
·         Resimen Bantuan Tempur 1/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Angmor 1/Marinir
2.     Batalyon Komlek 1/Marinir
3.     Batalyon Bekpal 1/Marinir
4.     Batalyon Zeni 1/Marinir
5.     Batalyon Kesehatan 1/Marinir
6.     Batalyon Provoost 1/Marinir
·         Pangkalan Marinir Surabaya membawahi :
1.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan V
2.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan VI
3.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan VII
4.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan VIII
5.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan IX
6.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan X
7.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan XI
·         Pasukan Marinir 2, berkedudukan di Cilandak, Jakarta Selatan
·         Brigade Infanteri 2/Marinir, berkedudukan di Cilandak, Jakarta Selatan.
·         Resimen Artileri 2/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Arhanud 2/Marinir
2.     Batalyon Howitzer 2/Marinir
3.     Batalyon Roket 2/Marinir
·         Resimen Kavaleri 2/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Ranratfib 2/Marinir
2.     Batalyon Tankfib 2/Marinir
3.     Batalyon Kapa 2 Marinir
·         Resimen Bantuan Tempur 2/Marinir membawahi :
1.     Batalyon Angmor 2/Marinir
2.     Batalyon Komlek 2/Marinir
3.     Batalyon Bekpal 2/Marinir
4.     Batalyon Zeni 1/Marinir
5.     Batalyon Kesehatan 2/Marinir
6.     Batalyon Provoost 2/Marinir
·         Pangkalan Marinir Jakarta membawahi :
1.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan I
2.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan II
3.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan III
4.     Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan IV
·         Brigade Infanteri 3/Marinir, berkedudukan di Piabung, Lampung.
·         Regu Pandu Tempur
·         Batalyon Intai Amfibi, Pasukan khusus Pasmar 1 Marinir
·         Batalyon Intai Amfibi, Pasukan khusus Pasmar 2 Marinir
·         Komando Latih Marinir membawahi :
1.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 01/
2.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 02/
3.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 03/
4.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 04/Purboyo, Malang
5.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 05/Asembagus, Situbondo
6.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 06/
7.     Pusat Pelatihan Tempur Marinir 07/
8.     Pusat Latihan Pendarat Amfibi & Kesiapan Tempur
9.     Pusat Latihan Pasukan Pendarat (Puslatpasrat)
·         Pusat Pendidikan Marinir Kobangdikal membawahi :
1.     Pusat Pendidikan Infanteri Marinir
2.     Pusat Pendidikan Artileri Marinir
3.     Pusat Pendidikan Kavaleri Marinir
4.     Pusat Pendidikan Bantuan Tempur Marinir




Kritik Terhadap Seni

A. Kritik Seni
Kritik seni sebagai ilmu pengetahuan terdiri   atas kumpulan teori sebagai hasil pengkajian yang teliti oleh pakar estetika dan pakar teori seni. Pada dasarnya pengetahuan ini dikembangkan dari kenyataan di lapangan. Teori kritik seni mencangkup segala sesuatu yang berhubungan dengan persyaratan dan metodologi yang deperlukan dalam kegiatan mengapresiasi dan menilai karya seni. Pada prinsipnya ada dua pendekatan yang dilakukan untuk membangun teori kritik seni.
1)      Berakar pada pendekatan filsafat metafisis yang melahirkan tipe kritik yang bersifat dogmatis.
2)      Pendekatan empiric modern yang mengpergunakan data objektif sebagai bassis penilaian karya seni.

(Osborne, 1995)
Eksistensi kritik seni masih menjadi ajang perdebatan
(Dewey, 1980; Stolnizt, 1971)
Bahwa kritik seharusnya merupakan aktivitas evaluasi, karya seni adalah objek pengamatan estetik, kritik tidak perlu sampai pada penyimpulan nilai, penghakiman karena dengan deskripsi dan pembahasan yang lengkap sudah mencukupi bagi penangkapan makna estetis
(Aschner,dkk. dalam Bangun, 2001:3)
Kritik sebagai kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Aktivitas evaluasi kritik seni harus sampai pada pernyataan nilai baik dan buruk bahkan sampai penentuan kedudukan karya seni dalam konteks karya yang sejenis.
(Kuspit, 1994)
Aktivitas kritik merupakan seni tersendiri, artinya seorang kritikus adalah individu kreatif yang mengungkap makna seni.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat para pakar adalah bahwa kritik seni adalah aktivitas pengkajian yang serius terhadap karya seni.
Tujuan kritik seni adalah evaluasi seni, apresiasi seni, dan pengembangan seni ke taraf yang lebih kreatif dan inovatif. Bagi masyarakat kritik seni berfungsi untuk memperluas wawasan seni. Bagi seniman kritik tampil sebagai ‘cambuk’ kreativitas. Suatu ketika kritik seni berperan memperkenalkan karakteristik seni baru. Kebangkitan seni modern, misalnya, sukar dipisahkan dari aktivitas kritik.
Dalam kritik seni sesungguhnya tedapat tiga asumsi terpenting, yakni:
1)      Kritik sebagai aktivitas apresiasi seni
2)      Kritik   sebagai aktivitas penghakiman
3)      Kritik sebagai aktivitas seni tersendiri
Dalam eksistensi kritik seni seperti yang diuraikan di atas, tampak peran kritik sangat vital menentukan perkembangan seni ditengah masyarakat, baik untuk seni tari, seni music, seni sastra, seni teater dan film, maupun untuk seni rupa.


1. Alat Kritik Seni
Tingkat kepakaran seorang kritikus menurut keahlian dan persyaratan tersendiri, sehingga bobot penilaian yang dilakukannya cukup meyakinkan bagi para pembaca.
Bekal atau perlengkapan yang harus dimiliki kritikus seni sehingga penilaiannya berbeda dengan orang kebanyakan, sebagai berikut:
1)      Seorang kritikus harus mempunyai cita rasa seni yang terbuka, artinya mempunyai kapasitas mengahargai kreativitas artistic yang sangat beragam. Mengapresiasikan dengan baik karaya seni yang eksis di berbagai tpat dan zaman.
2)      Seorang kritikus memerlukan studi formal di lembaga tinggi kesenian, khususnya tentang sejarah kesenian dan sejarah kebudayaan.
3)      Seorang kritikus harus berpengalaman mengamati dan menghayati seni secara orisinal, baik di studio, gedung pertunjukan, sanggar, maupun di museum. Pengalaman otentik ini diperlukan, sebab sukar dan mustahil mendapat pengalaman otentik dari slide, buku atau reproduksi karya seni belaka.
4)      Seorang kritikus harus mampu secara imajinatif merekapitulasi faktor teknik karya seni, sehingga mengetahui bagaimana proses pembuatan karya yang menjadi objek kritiknya.
5)      Seorang kritikus perlu mengetahui benar peristilahan seni, style seni, fungsi seni, opini penting para seniman dan pakar estetika secara periodic, disamping memahami konteks sosial dan kebudayaan yang melatar belakangi kreasi seorang seniman.
6)      Seorang kritikus harus paham betul pebedaan antara niat artistic dengan hasil atau penyampaian artistic, sehingga dia mampu meluhat senjangan antar keduanya. Niat, amanat, pernyataan, atau nilai yang ingin dekspresikan seniman tidak selalu persis terungkap dalam hasil kreasi seninya.
7)      Seorang kritikus harus mampu melawan bias atau simpati terhadap karya seniman tersebut yang dikenalnya secara pribadi. Sebaliknya, mampu pula secara ojektif dan penuh kearifan mengakuo keunggulan seorang seniman, meskipun seniman tersebut berbeda pendapat. Dengan kata lain perbedaan pendapat tidak mempengaruhi penilaian objektif seorang kritikus.
8)       Seorang kritikus harus harus memiliki kesadaran kritis. Hal ini berkaitan dengan karya seni yang berbeda itu. Sikap netral dan demokratis adalah basis kearifan penilaina seni.
9)      Seorang kritikus seni profesional harus memiliki temperamen judisial, dalam praktiknya ini berarti kemampuan menilai seni dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Aktivitas menilai seni memerlukan bukti dan kesaksian akurat. Diperlukan waktu untuk mencerap berbagai kesan, asosiasi, sensasi, yang diberikan karya seni. Hal ini diperlukan agar kritikus dapat secara hati-hati dan cermat menganalisis dan manafsirkan nilai kerya seni dengan bujaksana dan cerdas.


2. Tipe Kritik Seni
Pada hakikatnya tipe kritik seni adalah suatu landasan kerja, prodedur, atau metode penilaina karya seni dilihat dari sudut pandang tertentu. Penggolongan tipe kritik seni ada kalanya didasarkan pada kriteria yang dipakai, di saat yang lain bedasaekan doktrin seni, dan adakalanya dari siapa yang menulisnya.
(Hosper, 1992: 44) Berdasarkan penggolongan tersebut dikenal istilah isolasionisme dan kontekstualisme.
(Herarti, 1984: 105-106) Breadsley dan Kemp memperkenalkan tipe kritik intensionalis. Golman membagi tipe kritik menjadi formalis dan kontekstual.
(Sudarmaji, 1979: 33-34) Gastel membagi tipe kritik menjadi tiga, yakni kritik klasik, kritik romantic, dan kritik impresionisme.
(Pepper, 1970) Membagi tipe kritik menjadi empat, yakni kritik mekanistik, kritik kontekstualis, kritik organic, dan kritik formisme.
(Feldman, 1967: 451-452) Memperkenalkan kritik jurnalistik, kritik pedagogic, kritik scholary, dan kritik popular.
(Stonizt, 1986: 7-10) Tipe kritik normative (by rules) kritik kontekstual, kritik impresionis, kritik intensionalis, dan kritik intrinsic.
(Wellek, 1964: 345-346) Membagi kecenderungan kritik seni abad ke-20 menjadi enam, yaitu kritik Marxis, kritik Psikoanalitik, kritik linguistic-stilistik, kritik neo organistik, kritik formalis, dan kritik formalis eksistensialis.
(Wilson, 1971:33-42) Menurut Weitz, struktur kriteria atau standarkritik seni mengacu pada teori seni yang terpenting dan berpengaruh dalam dunia seni, yakni konsep imitasionalisme, eksprtesionisme, emosionalisme, formalism, dan organisisme.
(Barret, 1994: 102-105) Pakar lain membedakan kriteria penilaian seni menjadi enam, yaitu realisme, ekspresionisme, formalism, instrumentalisme, originalitu dan craftsmanship.
Pada dasarnya kritik seni memiliki banyak persamaan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, tipe kritik formalism, intrinsic, dan isolasionisme sebenarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama, meski istilahnyaberbeda. Demikian pula dengan kritik impresinistik dan mekanistik. Akan tetapi, bisa dipahami betapa besar usaha yang telah dilakukan untuk menemukan metode penilaian yang lebih tepat, lebih rasional, dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Pada kesempatan ini, tidak semua tipe kritik tersebut dibahas, tetapi akan dikemukakan tipe kritik versi Feldman yang meliputi:
a. Kritik Jurnalistik
Tipe kritik ini ditulis untuk para pembaca surat kabar dan majalah. Tujuannya memberikan informasi tentang berbagai peristiwa dalam dunia kesenian. Isi dari kritik Jurnalistik berupa ulasan ringkasan dan jelas mengenai suatu pameran, pementasan, konser, atau jenis pertunjukan seni lain di tengah mesyarakat. Karakteristik utama kritik Jurnalistik adalah aspek pemberitahuan.
Kewajiban seorang kritikus jurnalistik adalah memuaskan rasa ingin tahu para pembaca yang beragam, di samping untuk menyampaikan fenomena keindahanyang menggugah rasa keindahan. Pada umumnya kritikus menghindari penulisan yang panjang, agar tidak menyita kolom pemberitaan secaraberlebihan. Majalah Time dan Tempo di Indonesia merupakan contoh media yang menerapkan tipe kritik jurnalistik dalam rubric kesenian mereka.
Berbeda dengan Jurnal Bulanan Seni (Eropa, Amerika, Australia) yang menyajikan kritik jurnalistik dengan konsep lain. Jurnal ini berisi kritik tajam kepada museum dan lembaga sosial yang gagal memberik dukungan kepada seniman favorit mereka. Pada umumnya kritik tersebut menyulut timbulnya persaingan dalam kehidupan seni kontemporer. Kritikus seni, seperti Hilton Kramer dan Frank Getlein, dengan mewawancarai pendukungAction Painting seperti Harols Rosenberg dan Thomas Hess menciptakan forum bebas pendapat tahun 1950-an. Pada saat perdebatan kritik nyaris tidak ada.
Karena seringnya kritik tipe ini ditulis dan waktu penulisan yang terbatas, maka informasi yang disampaikan memiliki resiko tidak akurat. Penarikan kesimpulan yang cepat dan analisis yang dangkal menyebabkan kritikus cenderung menyimpulkan interpretasi seninya, tanpa analisis dan pembuktian yang valid. Bagi seseorang yang cermat mengamati tipe  kritik jurnalistik, akan menyadari pengetahuan atau pemahaman kritikus hanya berisi sekumpulan opini tentang reputasi seni kontemporer yang sedang berkembang.
b. Kritik Pedagogik
Kritik seni pedagogic diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di lembaga pendidikan kesenian. Jenis kritik ini dikembangkan oleh para dosen dan guru kesenian, tujuannya terutama mengembangkan bakat dan potensi artistic-estetik peserta didik, agar memiliki kemampuan mengenali bakat dan potensinya.
Para pendidik seharusnya memahami standar nilai dunia seni professional dan mampu berperan sebagai seorang kritikus, meskipun standar dunia seni profesional tersebut tidak digunakan sebagai kriteria untuk menilai karya peserta didiknya. Satu hal yang sulit bagi seorang pendidik seni ialah keterlibatan kapasitas kritisnya dalam proses pengajaran. Dia harus sadar bahwa kegiatan menganalisis dan menafsirkan karya mahasiswa-siswi adalah untuk kemajuan dan kepentingan peserta didik itu sendiri. Kritikus pedagogik membimbing bagaimana proses menganalisis dan menafsirkan nilai seni dan memahami karakter seni yang dibuatnya.
Sejak karya seni memiliki implikasi sosial (seni dibuat untuk orang lain, untuk dimiliki, dipakai, atau dikagumi, maupun untuk dinikmati sendiri) maka para pendidik seni wajib merespon secara kritis peserta didiknya, mulai dari proses pembuatan karya seni sampai menyelesaikannya. Pada system pendidikan tradisional, penentuan selesainya sebuah karya ditentukan oleh dosen atau guru seni. Namun dalam system pendidikan modern penentuan selesainya sebuah karya seni merupakan hasil kerja sama antara dosen dengan mahasiswanya atau persetujuan antara guru seni dan muridnya.

c. Kritik Ilmiah
Kritik ilmiah atau kritik akademi adalah istilah yang digunakan di Indonesia sebagai alih bahasa dari scholary criticism sebagaimana  disebutkan oleh Feldman. Kritik ilmiah biasanya melakukan pengkajian  nilai seni secara luas, mendalam, dan sistematis, baik dalam menganalisis maupun dalam  melakukan kaji banding kesejarahan critical judgment.
Penilaian kritik ilmiah sesungguhnya tidak bersifat mutlak, sama seperti pengetahuan lmiah lainnya, jenis kritik ini bersifat terbuka dan siap dikoreksi oleh siapa saja, demi penyempurnaan dan mencari nilai karya seni yang sebenarnya. Kritik seni ilmiah sama sekali tidak bermaksud mengilmiahkan seni, jenis kritik ini hanya meminjam sarana ilmiah untuk melakukan penilaian seni yang lebih akurat. Misalnya, menggunakan prosedur penelitian untuk mengumpulkan data yang lengkap, sebagai bukti konkret untuk melakukan penilaian yang logis, sehingga kesimpulan kritik yang dihasilkan dapat mengungkap makna seni berdasarkan bukti-bukti yang dikemukakan.

d. Kritik Popular
Pada dasarnya implikasi kritik seni popular ditulis oleh sebagian besar penulis yang tidak menuntut keahlian kritis. Masyarakat akan terus membuat penilaian kritis, tanpa mempertimbangkan apakah penilaian yang mereka lakukan tepat atau tidak. Cita rasa seni yang bernilai adalah kesetiaan pada fakta realisme yang pembahasannya berhubungan dengan gaya akurasi objektif.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa seorang kritikus yang tidak mengenal metodologi penulisan kritik dengan sendirinya menjadi penganut teori mimetik. Mereka memandang objek seni dari objek rupanya. Hal ini berarti kritikus membentuk penilaiannya dengan mempertautkan pengalaman sendiri dengan karya seni yang diamatinya. Jadi criteria penilaian bergantung pada apa yang pernah dilihat, dialami, didengar atau dibaca, lalu dikaitkan dengan berbagai cara pada objek seni yang dikritiknya. Kelemahan cara seperti ini adalah berbaurnya persepsi masa lampau dengan persepsi masa kini. Proses kerja demikian  menunjukkan bahwa kritikus tidak meneliti pengalamannya secara sistematis, artinya kritikus tidak sungguh-sungguh mengamati karya seni yang menjadi objek kritiknya.
Jenis kritik ini berkembang diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Tipe kritik popular adalah suatu gejala umum dan kebanyakan dihasilkan oleh para kritikus yang tidak ahli, terutama dilihat dari aspek profesionalisme kritisme seni.


3.         Penyajian Kritik Seni
Penyajian kritik seni memiliki bentuk dan cara yang sistematis. Kritikus yang baik secara sadar memahami bentuk, proses, bahkan sistem yang digunakannya untuk mencapai kesimpulan kritiknya. Menurut Feldman (1967:469) dalam teori kritik seni dikenal empat tahap meliputi; deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi.


a. Deskripsi
Deskripsi adalah suatu proses pengumpulan data karya seni yang tersaji langsung kepada pengamat. Dalam mendeskripsikan karya seni, kritikus dituntut menyajikan keterangan secara objektif yang bersumber pada fakta yang terdapat dalam karya seni. Kritikus sastra akan menguraikan karya sastra dan menguraikan proses pembuatan karya tersebut.
Dalam karya seni rupa, kritikus akan mengarahkan perhatiannya pada prinsip konfirmasi seperti warna, arah, bentuk, penggunaan baris, tekstur, volume, dan ruang. Dalam seni musik, kritikus mendata bagaimana penyajian sebuah konser, baik aransemen, vokal, dan instrumen musik yang dipakai untuk menyajikan sebuah pagelaran. Dalam seni tari, kritikus akan menguraikan bagaimana aspek penari, gerak, ekspresi, dan ilustrasi musik yang mengiringinya. Demikian pula seorang kritikus teater dan film yang akan menguraikan sinopsis, termasuk aspek tokoh, akting, dialog, dan penampilan aktor/aktris utama dan pemeran pembantu dalam sebuah pementasan teater atau pertunjukan film yang menjadi objek kritik.
Data ini diperlukan karena sifatnya bisa mempengaruhi persepsi kritikus dalam hal pemahaman dan penilaian kritisnya nanti. Dalam pembuatan deskripsi perlu dihindari interpretasi terhadap karya seni, kesan pribadi kritikus ketika mengamati karya seni bukan termasuk bagian dari deskripsi, jadi deskripsi berarti menguraikan fakta seni sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, tanpa tafsiran yang sifatnya ilusif dan imajinatif.
Disamping mendeskripsikan adegan, suasana, kritikus juga menerangkan pentas, tata cahaya, dan dekorasinya, sekaligus mengutip puisi yang dibacakan. Dengan teknik mendeskripsi seperti ini, tentu saja pembaca kritik mendapatkan informasi yang lengkap.

b. Analisis
Pada tahap analisis, tugas kritikus adalah menguraikan kualitas elemen seni. Dalam karya seni rupa, kualitas tersebut terdapat pada garis, bentuk, warna, pencahayaan, penataan figur, lokasi, ruang, dan volume. Jika seorang kritikus musik memberikan penilaian terhadap seorang penyanyi, maka disamping ia menafsirkan nilai penampilan sang artis, dia juga menganalisis segi tekniknya, misalnya vokal, jangkauan suara, akting, kefasihan, dan kualitas bunyi yang diciptakan.
Ide seorang kritikus sangat penting dalam menganalisis karya seni. Hasil karya seni, selanjutnya akan menjadi fakta objektif bagi kritikus untuk menafsirkan makna seni. Hal ini penting dalam upaya menilai seni secara kritis. Pada dasarnya tahap analisis adalah mengkaji kualitas unsur pendukung subject matter yang telah dihimpun dalam data deskripsi.

c. Interpretasi
Interpretasi dalam kritik seni adalah proses mengemukakan arti atau makna karya seni dari hasil deskripsi dan analisis yang cermat. Kegiatan ini tidak bermaksud menemukan nilai verbal yang setara dengan pengalaman yang diberikan karya seni. Juga bukan dimaksudkan sebagai proses penilaian.
Aktifitas interpretasi merupakan sebuah tantangan dan tentu saja merupakan bagian penting. Namun, dalam kegiatan ini kritikus tidak berada dalam posisi menilai, tetapi memutuskan apa makna seni, tema karya, masalah artistik, masalah intelektual karya seni, dan akhirnya menyimpulkan karya seni sebagai satu kesatuan yang utuh.
Dalam menafsirkan karya seni, kritikus bertolak dari data deskripsi dan analisis (yang telah dilakukan sebelumnya) untuk menghasilkan sebuah hipotesis tentang karya seni yang bersangkutan. Perlu asumsi yang melandasi dalam menginterpretasikan karya seni. Diasumsikan bahwa seni mempunyai kejelasan atau implikasi isi ideologis (bukan dalam arti politis). Diasumsikan pula bahwa objek seni adalah hasil karya manusia yang tidak bisa lepas dari aspek sistem nilai penciptanya. Karya seni tidak dapat dipisahkan dari wahana ide senimannya.
Seorang kritikus tidak tertarik secara khusus pada persoalan apakah ide dalam karya seni sesuai dengan pandangan senimannya (tidak ingin menerobos privacy seorang seniman) karena pandangan seorang seniman belum pasti terjelma dalam produk seninya. Dengan kata lain, kritikus tidak menggunakan seni untuk mendapatkan apa yang dipikirkan seniman, yang diperlukan adalah bagaimana mengamati objek seni dengan seksama, sehingga ditemukan ide yang sangat signifikan. Jadi, itulah fungsi seorang kritikus, menemukan gagasan apa yang terdapat pada sebuah karya seni, dan selanjutnya mengungkapkan apa maknanya.
Dari keterangan di atas, yang penting untuk kritik seni, bahwa seniman bukan pemegang otoritas dalam memaknai hasil karyanya. Para kritikus pada umumnya, sangat memperhatikan apa yang dikatakan seniman, menyimak dengan baik segala ungkapan seniman, tetapi kritikus akan menguji pernyataan tersebut pada karya seni yang dihasilkannya. Pernyataan seniman ditempatkan sebagai material yang perlu dikonfirmasikan dengan metode analisis dari interpretasi kritikus.
Bagi kritikus yang terbiasa mengamati karya naturalis dengan tema yang jelas, menafsirkan seni abstrak atau seni non-objektif mengalami kesulitan. Kesulitan ini diperkirakan menjadi alasan kuat bagi kritikus untuk berlindung pada pernyataan seniman, biografi dan pendapat rekan-rekannya untuk mengungkapkan misteri karyanya. Kemudian juga pengaruh teori kreatifitas artistik yang menganggap seniman mengetahui apa yang akan diekspresikan atau masalah apa yang akan dipecahkan.
Namun demikian, kritikus seharusnya tidak mencampuradukkan antara niat atau tujuan artistik dengan pencapaian artistik. Dengan kata lain, kebenaran sebuah pernyataan harus dapat diamati pada karya seni, jika tidak, maka kritikus dapat melihat terjadinya kesenjangan antara aspek konseptual dengan prestasi atau pencapaian artistik. Dalam mengamati seni kontemporer, kritikus mudah terpengaruh oleh reputasi seniman dan tulisan tentang karyanya. Namun dalam praktik penilaian kritis, hal tersebut  hanya digunakan sebagai pedoman dalam hal khusus jika diperlukan, akan tetapi makna seni dalam arti sesungguhnya kritikus yang menyimpulkannya.
Sesungguhnya kritik seni tidak berfungsi sebagai pengganti pengalaman estetis, mengungkap makna seni bukanlah berarti menemukan verbalisasi objek seni.
Dalam menafsirkan secara kritis karya seni kontemporer, kritikus berurusan dengan kualitas formal dan sensual objek seni. Kritikus menafsirkan dengan cermat dampak kualitas penghayatannya. Selama proses pembuatan deskripsi dan analisi, kritikus membicarakan elemen seni dan teknik pengorganisasiannya untuk mengarahkan perhatiannya langsung pada keaktualan objek seni.
Salah satu masalah sentral dalam estetika dan kritik seni adalah tidak ada jalan menghindari persepsi seni organisisme manusia. Variasi persepsi itu sendiri adalah sumber kegembiraan dan bagian dari kesenangan hidup. Kritikus dengan sadar dan penuh pertimbangan berusaha memformulasikan suatu penjelasan spesifik dari data tersebut. Isi deskripsi dan analisis dijadikan sebagai bukti dan kesaksian yang sangat berguna. Keterangan tersebut dengan sendirinya mensugestikan diri mewakili seni, meskipun tidak lengkap sebagai suatu karya seni yang utuh. Namun, dapat dipilih satu atau lebih data deskripsi dan analisis sebagai landasan pembentukan hipotesis, jika memang ada keterangan yang mengesankan.
Dalam kritik seni, tidak terlalu mementingkan apa penyebab kreasi sebuah objek seni. Namun lebih mengutamakan ide atau prinsip pengorganisasian yang memberikan efek tertentu pada kritikus. Sebagai penyebab timbulnya praduga, bahwa objek seni yang sama akan mempengaruhi individu secara berbeda.
Oleh karena itu, efek seni dan pengalaman estetik berada inside the skin of an observer,maka kritik seni mengembangkan suatu metode yang dapat memperkecil subjektifitas yang inherent dalam kritik seni. Dengan kata lain, karena kita tidak berhasil menelaah efek yang diberikan seni in side kita, tampaknya cara terbaik ialah menelaah pernyataan, observasi, dan persepsi yang telah dibuat seputar objek seni, yang ada diluar pribadi kita. Meskipun efek tersebut timbul pada diri kita, tetapi hal itu dapat diselidiki dengan teliti oleh tiap orang.
Untuk tujuan penafsiran dalam kritik seni, hipotesis adalah suatu ide atau prinsip organisasi yang berhubungan erat dengan materi deskripsi dan analisis.
d. Evaluasi
Evaluasi karya seni dengan metode kritis berarti menetapkan rangking sebuah karya dalam hubungannya dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya. Dalam aktifitas ini dikenal model evaluasi dengan studi komparatif historis.
Pada bagian ini kritikus perlu mengenali dengan seksama sebanyak mungkin gaya artistik, aliran seni, pengaruh komunikasi dalam pertukaran artistik modern, perluasan lahan kreatifitas, serta keunikan karya seni (orisinilitas) dalam sejarah kesenian. Sehingga ia mampu melakukan kaji banding kesejahteraan dengan tepat, untuk mencari serangkaian makna dan kekuatan ekspresi karya seni yang menjadi objek kritik.
Penilaian orisinilitas adalah instrumen penilaian kritis yang menjelaskan ide karya, yakni dengan mengidentifikasikan masalah artistik yang akan dipecahkan, apa fungsi seni, ada tidaknya inovasi ekspresi artistik, dan akseleransi teknik artistiknya.
Penilaian teknik seni adalah mengukur kelogisan penggunaan materi dan instrumen seni dengan korelasinya dengan bentuk dan fungsi seni. Dalam konteks karya yang anti teknik, anti estetis, anti seni, dan karya-karya vulgar lainnya penilaian ditekankan pada aspek intelektualnya, yakni bobot ide yang menyertai karya seni tersebut. Sebab tanpa isi pikiran, sebuah karya tergolong tidak bermanfaat, karena tidak relevan dengan kehidupan dan kemanusiaan kita.